Pada Awalnya, kegiatan yang akan dilakukan di Mei 2024 tersebut adalah cara Frans Lumentut untuk memotivasi diri sendiri. Selain itu, perjalanan tersebut juga untuk melatih dirinya agar bisa melakukan sesuatu diluar dari batas kemampuannya. Beliau memiliki tekad yang sangat besar untuk dapat menyelesaikan perjalanan. Berbagai persiapan juga dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari latihan fisik untuk mempersiapkan daya tahan tubuh, hingga logistik apa yang akan dibawa dalam perjalanan. Nyata nya, kegiatan yang akan dilakukan tersebut, terinspirasi dari anak - anak yang terjangkit kanker di Indonesia.
Melihat tekad yang dimiliki Frans, Budi Soehardi seorang mantan Pilot Singapore Airlines yang juga sekaligus pemilik rumah yatim piatu “Roslin Orphanage” di Nusa Tenggara Timur, ingin ikut ambil bagian perjalanan ini dengan menemani perjalanan Frans dari awal hingga akhir.
Ketika perjalanan tersebut terselenggara, Frans dan Budi akan mendapatkan banyak pelajaran hidup yang sangat berharga. Selama lebih dari 30 hari lamanya, mereka akan menempuh jalan sejauh 750 kilometer. Dalam sehari, ia harus bisa melangkah sejauh 25 kilometer dengan berjalan kaki, agar dapat mencapai tujuan akhir, Labuan Bajo. Setelah menghabiskan harinya dengan berjalan kaki, mereka akan beristirahat sejenak di malam hari, agar dapat berjalan kembali esok hari. Tidur dan istirahat yang cukup juga berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Pada malam sebelum tidur, mungkin Frans dan Budi akan terus mendambakan jika dirinya berhasil sampai di tujuan akhir. Namun, mereka mengetahui perjalanan yg akan dijalani tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka harus berjalan dan terus berjalan selama 30 hari lamanya, ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu. Selama perjalanan itu, mungkin mereka akan merasa bosan, lelah, dan frustasi selama perjalanan. Namun, semua hal tersebut sama sekali bukan alasan untuk berhenti melangkah. Mereka harus tetap semangat dan memotivasi dirinya sendiri agar dapat menyelesaikan perjalanan ini hingga selesai.

Sama hal nya dengan anak - anak penderita kanker yang ada di Indonesia. Terkadang mereka mungkin merasa lelah, bosan, hingga frustasi dengan apa yang sedang mereka alami. Merasa tak berdaya karna hanya bisa terlentang diatas ranjang rumah sakit, serta jarum infus yang berada didalam pembuluh darah. Yang mereka butuhkan adalah motivasi serta semangat dalam diri untuk sembuh, dan menerima apa yang sedang mereka alami saat ini. Sama hal nya dengan kondisi beliau disana, ada saatnya ia akan merasakan bahwa dengan berjalan sejauh itu membuat dirinya jenuh dan mungkin lelah dengan prosesnya. Namun, selama kita hanya diam di tempat dan tidak berjalan, kita tidak akan mengetahui keindahan apa yang akan dijanjikan didepan.

Setiap langkah kita memiliki kekuatan untuk membuat perbedaan. Ketika kita berjalan bersama, kita tidak hanya membangun kekuatan fisik, tetapi juga membangun kekuatan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Inilah mengapa kami mengajak Anda untuk bergabung dalam perjalanan ini, berjalan kaki untuk mendukung anak-anak penderita kanker.

Mari kita bersama kembalikan senyum sehat anak Indonesia.
Walk for Cause – Humanity in Harmony

Langkah demi langkah, Frans berjalan menyusuri jalur panjang dari Larantuka menuju Labuan Bajo. Teriknya matahari Nusa Tenggara Timur, jalanan yang tak selalu mudah dilalui, serta jarak yang terasa tak berujung menjadi bagian dari misinya. Namun perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ia berjalan membawa satu tujuan: menghadirkan harapan bagi anak-anak pejuang kanker.
Di tengah perjalanan itulah Frans bertemu dengan Tari.
Seorang anak kecil dari NTT yang sedang berjuang melawan kanker. Di usianya yang seharusnya dipenuhi tawa dan permainan, Tari harus menghadapi kenyataan pahit tentang penyakit yang belum banyak dipahami di daerahnya. Akses kesehatan terbatas, fasilitas medis minim, dan kurangnya edukasi membuat proses diagnosis dan pengobatan menjadi tantangan besar bagi keluarganya.

Melihat kondisi Tari, Frans tidak ingin hanya berjalan dan melanjutkan perjalanan misinya begitu saja. Ia segera menghubungi Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) dan meminta bantuan agar Tari bisa mendapatkan pengobatan yang layak.
Tari kemudian dibawa ke RSUP Prof. Dr. I.G.N.G.
Ngoerah di Bali untuk menjalani pengobatan. 4 bulan berlalu. Keluarga Tari
berharap melihat perubahan. Namun dalam proses yang penuh ketidakpastian itu,
mereka merasa belum ada perkembangan yang signifikan. Dengan berbagai
pertimbangan dan keterbatasan, keluarga akhirnya memutuskan untuk pulang ke
rumah.
Namun perjuangan tidak berhenti di situ.
YKAI tidak ingin Tari menyerah. Harapan tidak boleh
padam hanya karena satu fase yang terasa berat. Dengan komitmen dan dukungan
yang terus diberikan, YKAI kembali mengajak dan memfasilitasi Tari untuk
melanjutkan pengobatan di Jakarta, dengan penanganan yang lebih intensif
dan pendampingan yang lebih menyeluruh.
Prosesnya tidak singkat. Kurang lebih 11 bulan Tari
dan Keluarga berjuang. Ada air mata, ada rasa lelah, ada ketakutan. Namun ada
juga semangat yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dan perlahan, harapan itu mulai menunjukkan hasil.
Setelah menjalani rangkaian pengobatan dan
perawatan yang konsisten, kanker yang diderita Tari akhirnya dinyatakan
sembuh.
Hari ini, kisah Tari menjadi pengingat bahwa di
balik setiap langkah kecil, ada kemungkinan besar yang menunggu untuk terjadi.
Bahwa ketika kepedulian bertemu dengan tindakan nyata, keajaiban bisa menjadi kenyataan.
Campaign “Walk for Cause – Humanity in Harmony”
bukan hanya tentang berjalan jauh. Ini tentang bagaimana setiap langkah dapat
menghubungkan satu kehidupan dengan kesempatan kedua. Donasi yang terhimpun
melalui campaign ini didedikasikan untuk mendukung pembangunan Rumah Hospice
dan layanan Perawatan Paliatif, serta meningkatkan kesadaran masyarakat
melalui edukasi tentang kanker anak dan pentingnya deteksi dini.

Kisah Tari adalah satu dari sekian banyak alasan mengapa campaign ini penting. Di wilayah seperti Flores dan NTT, keterbatasan akses kesehatan, kurangnya edukasi, serta stigma terhadap kanker masih menjadi tantangan nyata. Tanpa kepedulian dan dukungan bersama, banyak anak mungkin tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti Tari.
Melalui langkah Frans, melalui dukungan YKAI, dan
melalui kebaikan hati para donatur, satu kehidupan berhasil diselamatkan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada seluruh donatur dan pihak yang telah berpartisipasi dalam campaign ini.
Dukungan Anda bukan sekadar angka. Dukungan Anda adalah perjalanan, adalah
pengobatan, adalah harapan — dan dalam kisah Tari, dukungan itu adalah
kesembuhan.
Karena ketika kita berjalan bersama, tidak ada anak yang harus berjuang sendirian. 🤍

Rp. 54.382.221

Rp. 60.000.000

dari target ∞ tidak terbatas
Pada Awalnya, kegiatan yang akan dilakukan di Mei 2024 tersebut adalah cara Frans Lumentut untuk memotivasi diri sendiri. Selain itu, perjalanan tersebut juga untuk melatih dirinya agar bisa melakukan sesuatu diluar dari batas kemampuannya. Beliau memiliki tekad yang sangat besar untuk dapat menyelesaikan perjalanan. Berbagai persiapan juga dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari latihan fisik untuk mempersiapkan daya tahan tubuh, hingga logistik apa yang akan dibawa dalam perjalanan. Nyata nya, kegiatan yang akan dilakukan tersebut, terinspirasi dari anak - anak yang terjangkit kanker di Indonesia.
Melihat tekad yang dimiliki Frans, Budi Soehardi seorang mantan Pilot Singapore Airlines yang juga sekaligus pemilik rumah yatim piatu “Roslin Orphanage” di Nusa Tenggara Timur, ingin ikut ambil bagian perjalanan ini dengan menemani perjalanan Frans dari awal hingga akhir.
Ketika perjalanan tersebut terselenggara, Frans dan Budi akan mendapatkan banyak pelajaran hidup yang sangat berharga. Selama lebih dari 30 hari lamanya, mereka akan menempuh jalan sejauh 750 kilometer. Dalam sehari, ia harus bisa melangkah sejauh 25 kilometer dengan berjalan kaki, agar dapat mencapai tujuan akhir, Labuan Bajo. Setelah menghabiskan harinya dengan berjalan kaki, mereka akan beristirahat sejenak di malam hari, agar dapat berjalan kembali esok hari. Tidur dan istirahat yang cukup juga berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Pada malam sebelum tidur, mungkin Frans dan Budi akan terus mendambakan jika dirinya berhasil sampai di tujuan akhir. Namun, mereka mengetahui perjalanan yg akan dijalani tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka harus berjalan dan terus berjalan selama 30 hari lamanya, ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu. Selama perjalanan itu, mungkin mereka akan merasa bosan, lelah, dan frustasi selama perjalanan. Namun, semua hal tersebut sama sekali bukan alasan untuk berhenti melangkah. Mereka harus tetap semangat dan memotivasi dirinya sendiri agar dapat menyelesaikan perjalanan ini hingga selesai.

Sama hal nya dengan anak - anak penderita kanker yang ada di Indonesia. Terkadang mereka mungkin merasa lelah, bosan, hingga frustasi dengan apa yang sedang mereka alami. Merasa tak berdaya karna hanya bisa terlentang diatas ranjang rumah sakit, serta jarum infus yang berada didalam pembuluh darah. Yang mereka butuhkan adalah motivasi serta semangat dalam diri untuk sembuh, dan menerima apa yang sedang mereka alami saat ini. Sama hal nya dengan kondisi beliau disana, ada saatnya ia akan merasakan bahwa dengan berjalan sejauh itu membuat dirinya jenuh dan mungkin lelah dengan prosesnya. Namun, selama kita hanya diam di tempat dan tidak berjalan, kita tidak akan mengetahui keindahan apa yang akan dijanjikan didepan.

Setiap langkah kita memiliki kekuatan untuk membuat perbedaan. Ketika kita berjalan bersama, kita tidak hanya membangun kekuatan fisik, tetapi juga membangun kekuatan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Inilah mengapa kami mengajak Anda untuk bergabung dalam perjalanan ini, berjalan kaki untuk mendukung anak-anak penderita kanker.

Mari kita bersama kembalikan senyum sehat anak Indonesia.
Jumlah yang telah dicairkan : Rp. 114.382.221
Walk for Cause – Humanity in Harmony

Langkah demi langkah, Frans berjalan menyusuri jalur panjang dari Larantuka menuju Labuan Bajo. Teriknya matahari Nusa Tenggara Timur, jalanan yang tak selalu mudah dilalui, serta jarak yang terasa tak berujung menjadi bagian dari misinya. Namun perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ia berjalan membawa satu tujuan: menghadirkan harapan bagi anak-anak pejuang kanker.
Di tengah perjalanan itulah Frans bertemu dengan Tari.
Seorang anak kecil dari NTT yang sedang berjuang melawan kanker. Di usianya yang seharusnya dipenuhi tawa dan permainan, Tari harus menghadapi kenyataan pahit tentang penyakit yang belum banyak dipahami di daerahnya. Akses kesehatan terbatas, fasilitas medis minim, dan kurangnya edukasi membuat proses diagnosis dan pengobatan menjadi tantangan besar bagi keluarganya.

Melihat kondisi Tari, Frans tidak ingin hanya berjalan dan melanjutkan perjalanan misinya begitu saja. Ia segera menghubungi Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) dan meminta bantuan agar Tari bisa mendapatkan pengobatan yang layak.
Tari kemudian dibawa ke RSUP Prof. Dr. I.G.N.G.
Ngoerah di Bali untuk menjalani pengobatan. 4 bulan berlalu. Keluarga Tari
berharap melihat perubahan. Namun dalam proses yang penuh ketidakpastian itu,
mereka merasa belum ada perkembangan yang signifikan. Dengan berbagai
pertimbangan dan keterbatasan, keluarga akhirnya memutuskan untuk pulang ke
rumah.
Namun perjuangan tidak berhenti di situ.
YKAI tidak ingin Tari menyerah. Harapan tidak boleh
padam hanya karena satu fase yang terasa berat. Dengan komitmen dan dukungan
yang terus diberikan, YKAI kembali mengajak dan memfasilitasi Tari untuk
melanjutkan pengobatan di Jakarta, dengan penanganan yang lebih intensif
dan pendampingan yang lebih menyeluruh.
Prosesnya tidak singkat. Kurang lebih 11 bulan Tari
dan Keluarga berjuang. Ada air mata, ada rasa lelah, ada ketakutan. Namun ada
juga semangat yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dan perlahan, harapan itu mulai menunjukkan hasil.
Setelah menjalani rangkaian pengobatan dan
perawatan yang konsisten, kanker yang diderita Tari akhirnya dinyatakan
sembuh.
Hari ini, kisah Tari menjadi pengingat bahwa di
balik setiap langkah kecil, ada kemungkinan besar yang menunggu untuk terjadi.
Bahwa ketika kepedulian bertemu dengan tindakan nyata, keajaiban bisa menjadi kenyataan.
Campaign “Walk for Cause – Humanity in Harmony”
bukan hanya tentang berjalan jauh. Ini tentang bagaimana setiap langkah dapat
menghubungkan satu kehidupan dengan kesempatan kedua. Donasi yang terhimpun
melalui campaign ini didedikasikan untuk mendukung pembangunan Rumah Hospice
dan layanan Perawatan Paliatif, serta meningkatkan kesadaran masyarakat
melalui edukasi tentang kanker anak dan pentingnya deteksi dini.

Kisah Tari adalah satu dari sekian banyak alasan mengapa campaign ini penting. Di wilayah seperti Flores dan NTT, keterbatasan akses kesehatan, kurangnya edukasi, serta stigma terhadap kanker masih menjadi tantangan nyata. Tanpa kepedulian dan dukungan bersama, banyak anak mungkin tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti Tari.
Melalui langkah Frans, melalui dukungan YKAI, dan
melalui kebaikan hati para donatur, satu kehidupan berhasil diselamatkan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada seluruh donatur dan pihak yang telah berpartisipasi dalam campaign ini.
Dukungan Anda bukan sekadar angka. Dukungan Anda adalah perjalanan, adalah
pengobatan, adalah harapan — dan dalam kisah Tari, dukungan itu adalah
kesembuhan.
Karena ketika kita berjalan bersama, tidak ada anak yang harus berjuang sendirian. 🤍

Rp. 54.382.221

Rp. 60.000.000

Bagikan tautan ke media sosial