Sejenak kita bayangkan, ketika air bah setinggi atap datang tiba-tiba. Dalam sekejap, rumah hancur, harta benda tertimbun lumpur, dan yang tersisa hanyalah pakaian di badan.

Namun, di tengah puing-puing bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ada pemandangan yang menyayat hati sekaligus menakjubkan. Warga ramai-ramai tak hanya meminta bantuan makanan, tapi juga Al-Qur’an.
Seorang anak kecil menangis saat relawan memberikan bantuan. Bukan kerana tidak kebagian jajanan, tapi karena tidak kebagian Al-Qur’an. Ada pula seorang nenek di Bireuen yang meminta dibelikan Al-Qur’an kepada Bupati Bireuen. Mengapa Al-Qur’an? Sebegitu pentingkah di hati mereka?

Bagi kita, mungkin satu mushaf di rak buku adalah hal biasa. Namun bagi saudara kita di wilayah bencana seperti Aceh, Al-Qur'an adalah satu-satunya pegangan batin untuk tetap kuat berdiri setelah bencana mengubur harapan mereka dalam-dalam.

Ramadhan tahun ini, bersama kita hadirkan Al-Qur’an ke hati saudara-saudara kita, sekaligus mengalirkan kebaikan yang tak pernah terputus meski kita tiada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)

Kita memiliki segalanya tapi sering merasa kurang, sedangkan mereka kehilangan segalanya namun merasa cukup hanya dengan memeluk firman-Nya. Kerinduan mereka terhadap Al-Qur’an adalah cermin yang memantulkan tanya: sejauh mana Al-Qur’an telah menjadi prioritas dalam hidup kita sendiri?
Sahabat, Ramadhan datang membawa peluang pahala berlipat. Lewat wakaf mushaf Al-Qur’an, kebaikan kita tak berhenti di satu waktu, tapi terus mengalir menguatkan mereka yang bangkit dari bencana. Mulai berwakaf hari ini, dan nikmati aliran pahala selamanya!
Sejenak kita bayangkan, ketika air bah setinggi atap datang tiba-tiba. Dalam sekejap, rumah hancur, harta benda tertimbun lumpur, dan yang tersisa hanyalah pakaian di badan.

Namun, di tengah puing-puing bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ada pemandangan yang menyayat hati sekaligus menakjubkan. Warga ramai-ramai tak hanya meminta bantuan makanan, tapi juga Al-Qur’an.
Seorang anak kecil menangis saat relawan memberikan bantuan. Bukan kerana tidak kebagian jajanan, tapi karena tidak kebagian Al-Qur’an. Ada pula seorang nenek di Bireuen yang meminta dibelikan Al-Qur’an kepada Bupati Bireuen. Mengapa Al-Qur’an? Sebegitu pentingkah di hati mereka?

Bagi kita, mungkin satu mushaf di rak buku adalah hal biasa. Namun bagi saudara kita di wilayah bencana seperti Aceh, Al-Qur'an adalah satu-satunya pegangan batin untuk tetap kuat berdiri setelah bencana mengubur harapan mereka dalam-dalam.

Ramadhan tahun ini, bersama kita hadirkan Al-Qur’an ke hati saudara-saudara kita, sekaligus mengalirkan kebaikan yang tak pernah terputus meski kita tiada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)

Kita memiliki segalanya tapi sering merasa kurang, sedangkan mereka kehilangan segalanya namun merasa cukup hanya dengan memeluk firman-Nya. Kerinduan mereka terhadap Al-Qur’an adalah cermin yang memantulkan tanya: sejauh mana Al-Qur’an telah menjadi prioritas dalam hidup kita sendiri?
Sahabat, Ramadhan datang membawa peluang pahala berlipat. Lewat wakaf mushaf Al-Qur’an, kebaikan kita tak berhenti di satu waktu, tapi terus mengalir menguatkan mereka yang bangkit dari bencana. Mulai berwakaf hari ini, dan nikmati aliran pahala selamanya!
Bagikan tautan ke media sosial