Cuaca ekstrem menyelimuti sejak 25 November 2025. Hujan pun turun tanpa jeda. Air sungai meluap, tanah tak lagi mampu menahan beban. Di akhir November, banjir bandang dan longsor datang bersamaan, menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatera—Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Air bercampur lumpur dan kayu gelondongan naik dengan cepat. Sebagian besar bahkan hingga melebihi atap rumah. Rumah-rumah terkubur, bangunan hancur, dan lebih dari seribu nyawa hilang. Ribuan lainnya terpaksa berlari hanya dengan pakaian di badan, menyisakan trauma yang mendalam.

Kini, sebagian besar dari mereka bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Namun, di tengah kehilangan harta benda, ada duka yang terasa lebih menyayat: masjid-masjid mereka ikut rusak dan hancur.

Kementerian Agama menyebut, tercatat sebanyak 1.137 masjid terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan jamaah kini kehilangan tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah, terutama saat bulan suci Ramadhan sudah di depan mata.

Membangun kembali masjid di wilayah bencana bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik, melainkan membangun kembali harapan dan kekuatan jiwa para penyintas untuk bangkit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa membangun masjid karena Allah, meski seukuran lubang burung sarang qatha (sangat kecil) atau lebih kecil, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga." (HR. Ibnu Majah).

Inilah kesempatan kita untuk membangun "investasi" yang paling menjanjikan di akhirat. Terlebih jika masjid ini dibangun di tempat yang sangat membutuhkan, maka setiap rakaat shalat dan setiap ayat yang dibaca di sana akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir deras ke rekening akhirat kita, meskipun kita telah tiada.

Ramadhan ini, jangan biarkan duka mereka berlarut karena ketiadaan tempat ibadah. Mari alirkan kebaikan dan jadikan harta kita sebagai saksi pembela di hadapan-Nya.
Cuaca ekstrem menyelimuti sejak 25 November 2025. Hujan pun turun tanpa jeda. Air sungai meluap, tanah tak lagi mampu menahan beban. Di akhir November, banjir bandang dan longsor datang bersamaan, menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatera—Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Air bercampur lumpur dan kayu gelondongan naik dengan cepat. Sebagian besar bahkan hingga melebihi atap rumah. Rumah-rumah terkubur, bangunan hancur, dan lebih dari seribu nyawa hilang. Ribuan lainnya terpaksa berlari hanya dengan pakaian di badan, menyisakan trauma yang mendalam.

Kini, sebagian besar dari mereka bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Namun, di tengah kehilangan harta benda, ada duka yang terasa lebih menyayat: masjid-masjid mereka ikut rusak dan hancur.

Kementerian Agama menyebut, tercatat sebanyak 1.137 masjid terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan jamaah kini kehilangan tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah, terutama saat bulan suci Ramadhan sudah di depan mata.

Membangun kembali masjid di wilayah bencana bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik, melainkan membangun kembali harapan dan kekuatan jiwa para penyintas untuk bangkit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa membangun masjid karena Allah, meski seukuran lubang burung sarang qatha (sangat kecil) atau lebih kecil, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga." (HR. Ibnu Majah).

Inilah kesempatan kita untuk membangun "investasi" yang paling menjanjikan di akhirat. Terlebih jika masjid ini dibangun di tempat yang sangat membutuhkan, maka setiap rakaat shalat dan setiap ayat yang dibaca di sana akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir deras ke rekening akhirat kita, meskipun kita telah tiada.

Ramadhan ini, jangan biarkan duka mereka berlarut karena ketiadaan tempat ibadah. Mari alirkan kebaikan dan jadikan harta kita sebagai saksi pembela di hadapan-Nya.
Bagikan tautan ke media sosial