Setiap harinya, Rozi harus menjalani perjuangan yang tidak mudah. Dalam sehari, perban dan kantong colostomy yang menempel di perutnya harus diganti hingga 6 kali untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi.
Rozi didiagnosis mengalami Post Colostomy akibat Penyakit Hirschsprung, yaitu kondisi setelah menjalani operasi colostomy karena menderita Hirschsprung, kelainan bawaan pada usus yang menyebabkan sebagian usus tidak memiliki sel saraf. Akibatnya, usus tidak mampu mendorong feses keluar secara normal sehingga feses menumpuk di dalam usus. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan perut membesar, sembelit berat, infeksi usus, hingga komplikasi yang mengancam nyawa.
Saat Rozi berusia 2 tahun, dokter melakukan operasi colostomy, yaitu membuat lubang (stoma) pada dinding perut sebagai jalur alternatif untuk mengeluarkan feses. Sejak saat itu, Rozi harus bergantung pada kantong colostomy untuk buang air besar. Kondisi ini membuatnya membutuhkan perawatan intensif setiap hari, mulai dari membersihkan area stoma, mengganti kantong colostomy dan perban secara berkala, hingga menjaga agar tidak terjadi infeksi maupun iritasi pada kulit di sekitar luka.
Saat ini, Rozi masih membutuhkan penanganan lanjutan di rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap agar kondisinya dapat dievaluasi dan memperoleh tindakan medis sesuai kebutuhannya. Namun, keterbatasan biaya membuat harapan tersebut belum dapat terwujud.
Demi kesembuhan Rozi, kami telah berusaha membawanya berobat ke berbagai rumah sakit. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, pengobatan tidak dapat dilanjutkan sehingga kami terpaksa merawat Rozi di rumah dengan kemampuan seadanya. Selama kurang lebih enam tahun terakhir, saya merawat Rozi sendiri setiap hari, termasuk mengganti perban dan kantong colostomy, memastikan area stoma tetap bersih, serta memenuhi kebutuhan perawatannya.
Sementara itu, ayah Rozi bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan yang tidak menentu. Di sisi lain, kebutuhan Rozi terus berjalan, mulai dari kantong colostomy, perban, susu, popok, vitamin, nutrisi, hingga biaya kontrol dan pengobatan yang harus dipenuhi secara rutin.
Setiap harinya, Rozi harus menjalani perjuangan yang tidak mudah. Dalam sehari, perban dan kantong colostomy yang menempel di perutnya harus diganti hingga 6 kali untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi.
Rozi didiagnosis mengalami Post Colostomy akibat Penyakit Hirschsprung, yaitu kondisi setelah menjalani operasi colostomy karena menderita Hirschsprung, kelainan bawaan pada usus yang menyebabkan sebagian usus tidak memiliki sel saraf. Akibatnya, usus tidak mampu mendorong feses keluar secara normal sehingga feses menumpuk di dalam usus. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan perut membesar, sembelit berat, infeksi usus, hingga komplikasi yang mengancam nyawa.
Saat Rozi berusia 2 tahun, dokter melakukan operasi colostomy, yaitu membuat lubang (stoma) pada dinding perut sebagai jalur alternatif untuk mengeluarkan feses. Sejak saat itu, Rozi harus bergantung pada kantong colostomy untuk buang air besar. Kondisi ini membuatnya membutuhkan perawatan intensif setiap hari, mulai dari membersihkan area stoma, mengganti kantong colostomy dan perban secara berkala, hingga menjaga agar tidak terjadi infeksi maupun iritasi pada kulit di sekitar luka.
Saat ini, Rozi masih membutuhkan penanganan lanjutan di rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap agar kondisinya dapat dievaluasi dan memperoleh tindakan medis sesuai kebutuhannya. Namun, keterbatasan biaya membuat harapan tersebut belum dapat terwujud.
Demi kesembuhan Rozi, kami telah berusaha membawanya berobat ke berbagai rumah sakit. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, pengobatan tidak dapat dilanjutkan sehingga kami terpaksa merawat Rozi di rumah dengan kemampuan seadanya. Selama kurang lebih enam tahun terakhir, saya merawat Rozi sendiri setiap hari, termasuk mengganti perban dan kantong colostomy, memastikan area stoma tetap bersih, serta memenuhi kebutuhan perawatannya.
Sementara itu, ayah Rozi bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan yang tidak menentu. Di sisi lain, kebutuhan Rozi terus berjalan, mulai dari kantong colostomy, perban, susu, popok, vitamin, nutrisi, hingga biaya kontrol dan pengobatan yang harus dipenuhi secara rutin.
Bagikan tautan ke media sosial