Bantu Bayi Rayyan Sembuh Dari Sakitnya

21 November 2022

Rayyan Alfarizqy, balita 7 bulan asal Pontianak, Kalimantan Barat berjuang melawan penyakitnya belum tegak, dokter mencurigai Rayyan menderita Atresia Bilier. 

Rayyan terlahir normal dengan berat badan 3,4 kg dan tinggi badan 50 cm. Namun sayangnya sejak lahir kondisi mata Rayyan terlihat kuning. Seperti orangtua pada umumnya, pak Sastrawan (39 tahun) dan ibu Jumiyati (31 tahun) berpikir kalau hal tersebut bukanlahlah apa-apa. Karena kondisi itu sering terjadi pada bayi yang baru lahir dan mereka hanya berusaha menjemur Rayyan setiap pagi supaya mata Rayyan tidak terlihat kuning lagi. 

Hari demi hari orang tua Rayyan berharap adanya perubahan kondisi mata Rayyan namun sayangnya tidak ada perubahan. Saat usia Rayyan 4 bulan orang tuanya memberanikan diri membawa Rayyan ke klinik untuk memeriksanya namun mereka tidak mendapatkan hasil apapun.

Bulan Agustus 2022 Rayyan mengalami muntah darah dan BAB darah. Orang tuanya pun panik dan langsung membawa Rayyan ke Rumah Sakit Antonius. Rayyan pun menjalani rawat inap selama 1 minggu dan menjalani berbagai pemeriksaan. Dari pemeriksaan tersebut, dokter menduga bahwa Rayyan menderita Atresia Bilier.

“Sebagai orang tua, pastinya kami sangat sedih mengetahui bahwa anak kami diduga menderita Atresia Bilier. Saya dan suami sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya pengobatan sedangkan untuk makan saja kami masih sulit”- ibu Jumiyati.

Selama beberapa bulan ini rutinitas pak Sastrawan dan bu Jumiyati hanyalah bolak-balik Rumah Sakit karena kondisi Rayyan sering drop. Bahkan sampai menjalani rawat inap selama 1 bulan, transfusi darah merah sebanyak 17 kali dan transfusi albumin 5 kali. Semakin hari perut Rayyan semakin membesar sehingga dokter merujuk Rayyan ke RSCM Jakarta untuk menjalani pengobatan yang lebih baik. 

Sekarang keluarga kecil ini tengah berjuang di Jakarta dengan perbekalan seadanya. Dan orangtuanya pun harus meninggalkan Nabila (kakak rayyan, 7 tahun) yang baru masuk SD dan harus mereka titipkan kepada saudara.

Penghasilan tidak menentu sebagai buruh serabutan sangatlah tidak mencukupi untuk biaya pengobatan Rayyan. Dalam sebulan saja penghasilah paling besar yang didapat pak Sastrawan tidak lebih dari 2 juta kadang-kadang hanyak 500 ribu perbulan. Penghasilan tersebut habis ia bagi untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anaknya. Sedangkan ibu Jumiyati sendiri hanyalah ibu rumah tangga.

Mereka telah banyak mengeluarkan biaya untuk pengobatan Rayyan sampai-sampai mereka menjual perhiasan, menjual barang bahkan sampai meminjam uang ke saudara. Mereka tidak ingin menyerah, namun semakin kesini semakin banyak kebutuhan Rayyan yang diperlukan dan tidak di cover BPJS seperti obat obatan, susu khusus, pampers dan kebutuhan lainnya.

Kini mereka benar benar sedang binggung membagi uang untuk kebutuhan sekolah dan biaya makan anak mereka di Pontianak, biaya hidup mereka di Jakarta dan biaya pengobatan Rayyan yang teramat besar. Sedangkan bekal mereka ke Jakarta benar-benar sudah hampir habis. Bahkan tagihan Rumah Sakit di Pontianak hingga puluhan juta belum lunas karena selama pengobatan di Pontianak belum menggunakan BPJS.

Mereka sangat berharap Rayyan bisa sembuh sehingga bisa tumbuh dengan normal dan sehat seperti anak anak lainnya. Mari kita bantu ringankan beban rayyan dan orang tuanya selama masa pengobatan dengan berdonasi melalui campaign ini. Karena bantuan dari #Temanpeduli sangat bermanfaat dan sangat membantu mereka.


Belum ada update
Belum ada harapan/doa
Dana terkumpul

Rp 0

dari target Rp 120.000.000

 
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 36
    hari lagi
Donasi
Donasi
Belum ada donasi
Ayobantu Indonesia
AyoBantu Galang Dana

Jadi fundraiser untuk campaign ini

Gabung Sekarang
Belum ada fundraiser(supporter) di campaign ini

Bantu Bayi Rayyan Sembuh Dari Sakitnya Kesehatan

Dana terkumpul

Rp 0

 
Target: Rp Rp 120.000.000
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 36
    hari lagi
Donasi
21 November 2022

Rayyan Alfarizqy, balita 7 bulan asal Pontianak, Kalimantan Barat berjuang melawan penyakitnya belum tegak, dokter mencurigai Rayyan menderita Atresia Bilier. 

Rayyan terlahir normal dengan berat badan 3,4 kg dan tinggi badan 50 cm. Namun sayangnya sejak lahir kondisi mata Rayyan terlihat kuning. Seperti orangtua pada umumnya, pak Sastrawan (39 tahun) dan ibu Jumiyati (31 tahun) berpikir kalau hal tersebut bukanlahlah apa-apa. Karena kondisi itu sering terjadi pada bayi yang baru lahir dan mereka hanya berusaha menjemur Rayyan setiap pagi supaya mata Rayyan tidak terlihat kuning lagi. 

Hari demi hari orang tua Rayyan berharap adanya perubahan kondisi mata Rayyan namun sayangnya tidak ada perubahan. Saat usia Rayyan 4 bulan orang tuanya memberanikan diri membawa Rayyan ke klinik untuk memeriksanya namun mereka tidak mendapatkan hasil apapun.

Bulan Agustus 2022 Rayyan mengalami muntah darah dan BAB darah. Orang tuanya pun panik dan langsung membawa Rayyan ke Rumah Sakit Antonius. Rayyan pun menjalani rawat inap selama 1 minggu dan menjalani berbagai pemeriksaan. Dari pemeriksaan tersebut, dokter menduga bahwa Rayyan menderita Atresia Bilier.

“Sebagai orang tua, pastinya kami sangat sedih mengetahui bahwa anak kami diduga menderita Atresia Bilier. Saya dan suami sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya pengobatan sedangkan untuk makan saja kami masih sulit”- ibu Jumiyati.

Selama beberapa bulan ini rutinitas pak Sastrawan dan bu Jumiyati hanyalah bolak-balik Rumah Sakit karena kondisi Rayyan sering drop. Bahkan sampai menjalani rawat inap selama 1 bulan, transfusi darah merah sebanyak 17 kali dan transfusi albumin 5 kali. Semakin hari perut Rayyan semakin membesar sehingga dokter merujuk Rayyan ke RSCM Jakarta untuk menjalani pengobatan yang lebih baik. 

Sekarang keluarga kecil ini tengah berjuang di Jakarta dengan perbekalan seadanya. Dan orangtuanya pun harus meninggalkan Nabila (kakak rayyan, 7 tahun) yang baru masuk SD dan harus mereka titipkan kepada saudara.

Penghasilan tidak menentu sebagai buruh serabutan sangatlah tidak mencukupi untuk biaya pengobatan Rayyan. Dalam sebulan saja penghasilah paling besar yang didapat pak Sastrawan tidak lebih dari 2 juta kadang-kadang hanyak 500 ribu perbulan. Penghasilan tersebut habis ia bagi untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anaknya. Sedangkan ibu Jumiyati sendiri hanyalah ibu rumah tangga.

Mereka telah banyak mengeluarkan biaya untuk pengobatan Rayyan sampai-sampai mereka menjual perhiasan, menjual barang bahkan sampai meminjam uang ke saudara. Mereka tidak ingin menyerah, namun semakin kesini semakin banyak kebutuhan Rayyan yang diperlukan dan tidak di cover BPJS seperti obat obatan, susu khusus, pampers dan kebutuhan lainnya.

Kini mereka benar benar sedang binggung membagi uang untuk kebutuhan sekolah dan biaya makan anak mereka di Pontianak, biaya hidup mereka di Jakarta dan biaya pengobatan Rayyan yang teramat besar. Sedangkan bekal mereka ke Jakarta benar-benar sudah hampir habis. Bahkan tagihan Rumah Sakit di Pontianak hingga puluhan juta belum lunas karena selama pengobatan di Pontianak belum menggunakan BPJS.

Mereka sangat berharap Rayyan bisa sembuh sehingga bisa tumbuh dengan normal dan sehat seperti anak anak lainnya. Mari kita bantu ringankan beban rayyan dan orang tuanya selama masa pengobatan dengan berdonasi melalui campaign ini. Karena bantuan dari #Temanpeduli sangat bermanfaat dan sangat membantu mereka.



Belum ada update
Belum ada donasi
Harapan #TemanPeduli
Belum ada harapan/doa
Fundraiser
Jadi Fundraiser
Belum ada fundraiser(supporter) di campaign ini